holaaaa ~
wah wah wah udah kek sarang laba-laba ya kk ~
Hari ini setelah sekian lama aku gak pernah nulis, terus kepengen nulis, males nulis dan akhirnya memaksakan diri untuk menulis lagi karena udah gak tau harus ngomong ke siapa dan cerita ke siapa.
Tema hari ini melow banget. Asli drama. Dari yang ditinggal ayah kerja (ini sih udah biasa haha), terus kakak perempuanku yang juga kerja nan jauh di sana, ibu aku yang terus-terusan gak rela kakak aku pergi kerja jauh, ditambah adek aku yang sibuk dengan kegiatan sekolahnya dengan pulang sore (sampek malem kalo les).
Semua keadaan ini memaksa aku seorang remaja yang menuju dewasa untuk bisa kuat anter-jemput adek, nemenin ibu buat dirumah (kalo bisa nganter sana-sini juga), dan menggantikan posisi seorang kakak perempuan ku yang terbilang "tegas". sedangkan aku hanya remaja yang bergantung pada kakakku.
"Arek iki kok gak iso koyok mbak e seh!"
trans : "Anak ini kok tidak bisa seperti kakak perempuannya sih!"
"Duluran tapi sifat e iso bedo ngene yo!"
trans : "Saudara tapi sifatnya bisa beda gini ya!"
Kukira hidup dalam bayang-bayang kakakku sudah berakhir waktu Sekolah Menengah Pertama dulu. Guru-guru yang dengan bangganya memirip-miripkan aku dengan kakakku. Mengumbar setiap kebaikan kakakku yang telah dilakukan untuk sekolah. Prestasi-prestasi yang diraihnya pun tak luput dari omongan para guru.
Aku bisa apa...
Dia memang yang terbaik...
Aku hanya seorang anak yang pendiam, tak peduli akan situasi...
Hanya bisa menatap..
Hati ingin membantu tapi apa daya, tatapan orang lain yang tak ingin kubantu..
"Anak kedua tidak lebih pintar dari anak pertama"
Itu kata guru Agama ku sewaktu SMA, yah bukan menyalahkan atau membenci perkataan beliau. Aku mengiyakan, membenarkan, menyetujuinya setelah apa yang kulihat dari diriku memang tak sepenuhnya aku lebih pintar dari dia.
Kalo aku berbicara tentang saudara-saudara ku kalian akan bingung hehe. Mereka bibit unggulan yang telah dihasilkan dari orang tua yang benar-benar bertanggung jawab.
Mereka dengan gampang bersosialisasi dengan lingkungan luar..
Mereka yang senang bergaul dengan siapa saja...
Mereka dengan mudahnya mendapat teman saat ditempat baru..
Mereka yang 100% jauh lebih baik dari aku...
Sifatku yang pendiam ini membuat orang sekitar untuk enggan memulai sosialisasi denganku. Membuat mereka tak nyaman dengan kebiasaanku membisu. Membuat suasana canggung adalah hobiku.
Tapi, apa ini salahku? tentu, ini semua salahku..
Mengapa aku tak pandai bicara?
Mengapa aku sulit mendapat teman?
Mengapa aku berbeda dari saudara ku yang begitu cepatnya beradatasi dengan lingkungan baru?
Semua pertanyaan itu menghantui bagaikan sudah menjadi satu dengan diriku..
Setiap hari kurenungkan kesalahanku..
Ingin mencoba untuk memperbaiki, tapi apa daya aku tak sanggup membuka suara pada orang asing..
Pernah sekali aku diajari untuk melontarkan makian kepada orang yang sudah membuatku benci. Tapi apa daya, aku lebih memilih menusukkan duri kepada diri sendiri yang kemudian menangis kesakitan, daripada melihat orang laing yang tertusuk duri ku.
Katanya introvert tidak peduli dengan keadaan sekitar.
Kami memahami lingkungan kami dengan gaya kami sendiri, tidak perlu dengan ucapan hanya mendengarkan dan melihat itu cukup
Banyak orang yang merindukan kakakku ketimbang aku yang setiap hari ada tapi tak dianggap.
Banyak orang yang menanyakan padaku kapan dia akan kembali.
Banyak orang yang membandingkan aku dengannya.
Tak masalah bila mereka memperbincangkan aku sampai sejauh itu, tapi semua orang terlahir beda.
Anak kembar identik pun pasti memiliki perbedaan.
Terus kenapa asyik menyamakan aku dengannya?
Obat dari masalah yang tak berujung ini adalah tidur.
Sleep + Cry = Healing Time
Tidak tau kenapa aku suka tidur dengan menangis, seakan beban keluar dari keringat yang berada di mata.
Seberapa tua umurmu jika kau ingin menangis, menangislah.
Lepaskan beban yang selama ini kau tanggung sendiri, kau bisa membaginya dengan Allah..
Tapi untuk saat ini beban ku tidak seberat ayahku hehe..
Ini cuman semacam rintihan ku yang tidak seberapa berat dari anak yang lain..
Yang kumohon cuma satu!
Hargai orang Introvert, mereka mungkin sedikit terganggu dengan keberisikan kita atau mungkin bagi kita itu hal wajar, jangan memandang orang introvert orang yang menakutkan atau membosankan, kita juga dapat mendengarkan keluh kesahmu jika kau mau.
Kalau kamu ingin dihargai, hargai dulu orang lain :))
wah wah wah udah kek sarang laba-laba ya kk ~
Hari ini setelah sekian lama aku gak pernah nulis, terus kepengen nulis, males nulis dan akhirnya memaksakan diri untuk menulis lagi karena udah gak tau harus ngomong ke siapa dan cerita ke siapa.
Tema hari ini melow banget. Asli drama. Dari yang ditinggal ayah kerja (ini sih udah biasa haha), terus kakak perempuanku yang juga kerja nan jauh di sana, ibu aku yang terus-terusan gak rela kakak aku pergi kerja jauh, ditambah adek aku yang sibuk dengan kegiatan sekolahnya dengan pulang sore (sampek malem kalo les).
Semua keadaan ini memaksa aku seorang remaja yang menuju dewasa untuk bisa kuat anter-jemput adek, nemenin ibu buat dirumah (kalo bisa nganter sana-sini juga), dan menggantikan posisi seorang kakak perempuan ku yang terbilang "tegas". sedangkan aku hanya remaja yang bergantung pada kakakku.
"Arek iki kok gak iso koyok mbak e seh!"
trans : "Anak ini kok tidak bisa seperti kakak perempuannya sih!"
"Duluran tapi sifat e iso bedo ngene yo!"
trans : "Saudara tapi sifatnya bisa beda gini ya!"
Kukira hidup dalam bayang-bayang kakakku sudah berakhir waktu Sekolah Menengah Pertama dulu. Guru-guru yang dengan bangganya memirip-miripkan aku dengan kakakku. Mengumbar setiap kebaikan kakakku yang telah dilakukan untuk sekolah. Prestasi-prestasi yang diraihnya pun tak luput dari omongan para guru.
Aku bisa apa...
Dia memang yang terbaik...
Aku hanya seorang anak yang pendiam, tak peduli akan situasi...
Hanya bisa menatap..
Hati ingin membantu tapi apa daya, tatapan orang lain yang tak ingin kubantu..
"Anak kedua tidak lebih pintar dari anak pertama"
Itu kata guru Agama ku sewaktu SMA, yah bukan menyalahkan atau membenci perkataan beliau. Aku mengiyakan, membenarkan, menyetujuinya setelah apa yang kulihat dari diriku memang tak sepenuhnya aku lebih pintar dari dia.
Kalo aku berbicara tentang saudara-saudara ku kalian akan bingung hehe. Mereka bibit unggulan yang telah dihasilkan dari orang tua yang benar-benar bertanggung jawab.
Mereka dengan gampang bersosialisasi dengan lingkungan luar..
Mereka yang senang bergaul dengan siapa saja...
Mereka dengan mudahnya mendapat teman saat ditempat baru..
Mereka yang 100% jauh lebih baik dari aku...
Sifatku yang pendiam ini membuat orang sekitar untuk enggan memulai sosialisasi denganku. Membuat mereka tak nyaman dengan kebiasaanku membisu. Membuat suasana canggung adalah hobiku.
Tapi, apa ini salahku? tentu, ini semua salahku..
Mengapa aku tak pandai bicara?
Mengapa aku sulit mendapat teman?
Mengapa aku berbeda dari saudara ku yang begitu cepatnya beradatasi dengan lingkungan baru?
Semua pertanyaan itu menghantui bagaikan sudah menjadi satu dengan diriku..
Setiap hari kurenungkan kesalahanku..
Ingin mencoba untuk memperbaiki, tapi apa daya aku tak sanggup membuka suara pada orang asing..
Pernah sekali aku diajari untuk melontarkan makian kepada orang yang sudah membuatku benci. Tapi apa daya, aku lebih memilih menusukkan duri kepada diri sendiri yang kemudian menangis kesakitan, daripada melihat orang laing yang tertusuk duri ku.
Katanya introvert tidak peduli dengan keadaan sekitar.
Kami memahami lingkungan kami dengan gaya kami sendiri, tidak perlu dengan ucapan hanya mendengarkan dan melihat itu cukup
Banyak orang yang merindukan kakakku ketimbang aku yang setiap hari ada tapi tak dianggap.
Banyak orang yang menanyakan padaku kapan dia akan kembali.
Banyak orang yang membandingkan aku dengannya.
Tak masalah bila mereka memperbincangkan aku sampai sejauh itu, tapi semua orang terlahir beda.
Anak kembar identik pun pasti memiliki perbedaan.
Terus kenapa asyik menyamakan aku dengannya?
Obat dari masalah yang tak berujung ini adalah tidur.
Sleep + Cry = Healing Time
Tidak tau kenapa aku suka tidur dengan menangis, seakan beban keluar dari keringat yang berada di mata.
Seberapa tua umurmu jika kau ingin menangis, menangislah.
Lepaskan beban yang selama ini kau tanggung sendiri, kau bisa membaginya dengan Allah..
Tapi untuk saat ini beban ku tidak seberat ayahku hehe..
Ini cuman semacam rintihan ku yang tidak seberapa berat dari anak yang lain..
Yang kumohon cuma satu!
Hargai orang Introvert, mereka mungkin sedikit terganggu dengan keberisikan kita atau mungkin bagi kita itu hal wajar, jangan memandang orang introvert orang yang menakutkan atau membosankan, kita juga dapat mendengarkan keluh kesahmu jika kau mau.
Kalau kamu ingin dihargai, hargai dulu orang lain :))
Komentar
Posting Komentar